Lewati ke konten

Genre/Islami

Islami

Seni bertahan dari dunia yang bising sesuai Uzlah

Menepi untuk temukan titik diri yang hilang.

Rakhel Fasya Nurfaddhillah

Rakhel Fasya Nurfaddhillah

17 Agustus 2026·3 menit baca

Seni bertahan dari dunia yang bising sesuai Uzlah

Tak jarang, ribuang teriakan terpendam dan terngiang dri ratusan bahkan ribuang informasi yang teruss berjalan, Sebuah Tuntutan untuk terus berpendapat. DI kehidupan yang mana kondisiinya tidak lagi memiliki eaktu sendirii tanpa di intevensi dengan pemikirian orang lain.

seseoarang anti-sosial yang menarik diri atau bahkan sampai terkena lonelines, banyak di anggap sbagai orang yang anehh. Padahal terdapat pembeda yang tegas dri kesepian yang terasingkan atau dari menepi hanya untuk menemukan kembali titik diri sendiri.

Menurut ulama Klasik pembeda itu disebut sebagai Uzlah, yang mana terdpaat sebuah kisah legendaris dari Al-quran pada surat Alkahf 16 :
وَإِذِ ٱعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأْوُۥٓ إِلَى ٱلْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِۦ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا
Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”

Menemukan 'Gua' di Era Modern
Kata ٱعْتَزَلْتُمُوهُمْ (i'tazaltumuuhum) dalam ayat di atas berasal dari akar kata yang sama dengan ’Uzlah. Para pemuda Ashabul Kahfi tidak melarikan diri karena pengecut. Mereka mengambil jarak (distancing) dari lingkungan sosial yang sudah toksik, bising, dan merusak kompas moral mereka.

Yang menarik adalah apa yang terjadi ketika mereka masuk ke dalam gua:

Bukan untuk Mati, tapi untuk Bertahan (Survival)
Gua dalam ayat ini bukan simbol keputusasaan, melainkan ruang aman untuk menjaga kesadaran dan imannya tetap utuh.

Janji Kelapangan di Ruang Sempit (Yansyur Lakum)
Ayat ini menggunakan kata Yansyur (membentangkan/melimpahkan). Secara fisik gua itu sempit dan gelap, tetapi secara jiwa, Allah membentangkan rahmat-Nya di sana. 'Uzlah mengajarkan bahwa kebebasan dan kedamaian sejati justru sering ditemukan ketika kita berani membatasi diri dari jangkauan luar.

Gua Sebagai Ruang Penataan Ulang (Mirfaqan)
Di akhir ayat, Allah berjanji menyediakan Mirfaqan—sesuatu yang berguna/kemudahan dalam urusan. Menepi sejenak memberi kita kejernihan berpikir (clarity) agar saat kembali ke masyarakat, kita tidak lagi ikut terbawa arus, melainkan membawa solusi.

Menghidupkan 'Uzlah Hari Ini
Kita mungkin tidak perlu secara fisik bersembunyi di gua gunung batu seperti Ashabul Kahfi. Namun, kita sangat butuh menciptakan "Gua Modern" kita sendiri:

Puasa Matriks Digital: Mematikan notifikasi beberapa jam sehari bukan sekadar dopamine detox, melainkan bentuk 'uzlah kecil untuk merebut kembali kendali atas pikiran sendiri.

Menyendiri yang Aktif (Solitude): Duduk diam, membaca, atau berzikir tanpa memegang gawai. Mengubah status menyendiri dari "terisolasi" menjadi "ruang refleksi".

Menjaga Jarak dari Narasi Toksik: Berani tidak ikut dalam setiap perdebatan internet yang tidak penting (adab al-uzlah).

Ditulis oleh Rakhel Fasya Nurfaddhillah